Sebutlah namaku Zee, seorang ibu rumah tangga mempunyai 2 anak yang masih TK dan SD kelas 2.
Selama ini hidup rumah tanggaku, baik-baik saja, dengan suami bekerja menjadi seorang dosen.
Akupun tidak murni ibu rumah tangga, aku mempunyai pekerjaan freeline bidang pemberdayaan masyarakat, sehingga fleksibel dalam waktu, tergantung aktivitas masyarakat waktu bisa diatur.
Kebahagiaanku semakin memuncak waktu ada bukaan lowongan untuk dosen di universitas dimana tempat suamiku bekerja, dan yang pemberi semangat besar itu adalah suami, gimana tidak bahagianya aku, akan pergi dan pulang bareng bila bekerja di tempat yang sama, bisa sepanjang jalan untuk bercerita, berbagi rasa. Serunya😍.
Dan hari pengumuman hasil seleksipun tiba, alhamdulillah aku lulus.
Hari pertama kerjapun tiba, kali ini aku pergi sendiri dengan motor karena suami ada kerjanya lain dan beda waktunya.
Aku menikmati di pekerjaan baru ini, enjoy dan happy, telah sebulan berlalu.
Tapi selama sebulan ini, belum pernah aku dan suami pergi dan pulang bareng, beda jauh dari khayalanku selama ini.
Dan akupun menganggap biasa saja, mungkin lain waktu ada waktu pas kami bisa bersama.
Masuk bulan kedua, akhirnya suami mengajakku berbicara, sepertinya akan membahas masalah serius sangat, nga biasanya harus ada waktu special untuk bicara.
Dan apa kata suamiku?
Dia ingin menceraikanku untuk syarat menikahi mahasiswinya.
Allahuakbar, terpaan apa ini, sebegitu tiba-tibanya.
“Dan kenapa mendukung aku menjadi dosen di tempat kerjamu Mas?”, itu pertanyaanku.
“Apakah mas menginginkanku melihat kebahagiaan kalian?”
“Kenapa?”
Jawab singkat dan seperti tak ada berbekasnya diri ini
“Karena saya tidak cinta lagi, tidak ada yang perlu dipertahankan”, jawab suamiku.
“Anak-anak, bagaimana Mas?”
“Anak-anak masih tanggung jawabku, bisa ku menafkahkannya”, jawabnya lagi.
“Maaaaas, istighfar mas, apa salahku maaas?”, tanyaku
“Kamu tak salah, aku yang salah, mencintai orang lain dan aku tak bisa adil untuk berbagi cinta”, jawab suami dengan nada datar.
“Apa arti semua ini Mas, cinta apa, apa yang mesti dibagi, cinta apa ini Mas?”.
Gila ini orang Zee, jangan ketemu deh dengan orang gini, enakan jauh-jauh hari diracun aja (ini kata saya tukang nulis😡).
Upaya aku tuk mempertahankan keutuhan keluarga ini sia-sia, telah berupaya mengulang dari nol seperti petugas SPBU, melihat sisi baik dan positif, tapi tak juga mengubah keputusan suamiku, karena memang suami tidak mau lagi dengan aku.
Dan kini aku dan kedua anakku telah terbiasa tanpamu mas, tak perlu diulang kata tak mencintai.
Aku tetap mencintaimu, karena engkau ayah dari anak-anakku, terus ku pupuk rasa sayang ini, karena suatu saat aku akan kembali untuk menikahkan anak putri kita, tugas ayah yang mesti kau tunaikan mas.
Hedeeeh ini cerita nyata, sakit amat ya, saya dengernya gemes geram bangets.
Dah gitu aja.
