Ibu Ainun selalu hadir memberikan keseimbangan dan menciptakan harmoni dalam kehidupan, dengan kerendahan hati utk memberi suaminya selalu berjalan di depan “the big you and the small I”.
Ainun
Dari keluarga terhormat, berkelas, berpendidikan dan tetap kuat agama
Tetap low profil, berpendidikan tinggi, tetap suami sebagai leader
Mendukung suami
Begitu tulus mencintai menyayangi suami
Berkorban menggugurkan keinginan berkarir demi kesehatan anak, suami, dalam keterbatasan ekonomi berjuang untuk tetap memenuhi nutrisi keluarga dengan penghematan di sandang, menjahit sendiri dengan jahit tangan dan mengumpulkan dana untuk membeli mesin singer dikemudian hari.
Melengkapi peran ayah dalam pengasuhan, karena sibuknya pak Habibie dalam pembelajaran dan kerja untuk mencapai target -target.
Habibie
Dari keluarga berkarakter kuat, kuat dalam agama, keluarga yang visioner,
Bercerita runut, detil, luar biasa daya ingatnya, dengan gaya bicaranya, terasa mendengar sendiri beliau bercerita dengan nuansa keteknologiannya yang melekat.
Beliau mempunyai kemampuan dari dalam diri dan keinginan besar untuk bangsa Indonesia. Pak Habibie sadar atas kemampuan dirinya, kecerdasannya, modal inilah yang digali dan diasah. Berhimpun dengan orang-orang hebat dan lebih, sehingga kemampuan ini melahirkan teori, metode yang mendunia yang dilisensikan atas karyanya, dan salah satu pabrik pahala beliau dan keluarga.
Beliau begitu mencintai dan menyayangi istrinya, selalu mengajak diskusi, meminta pendapat, hingga akhirnya keberadaan bu Ainun tidak dapat dipisahkan dari diri pak Habibie.
Dan yang sangat harus saya renungkan dan panuti adalah :
Dalam suatu keluarga, istri melengkapi dan mendukung peran dan tugas suami, berdiri dan berjalan di sampingnya, bukan di depan suami.
Tetap berkarya, berguna bagi keluarga dan masyarakat.
