Bagaimana Pegiat Pariwisata Desa Terong Belitung Bertahan dalam Pandemi Covid-19 ini ?

Senja di Kota Tanjung Pandan Belitung, 2021

Selama 2 tahun pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Belitung, imbasnya parisiwata tutup, beberapa hotel, tempat kuliner, agen travel tutup.
Tapi ada yang tetap eksis dengan sistem tetap menutup diri dari kunjungan wisatawan, laaa bagaimana maksudnya?

Pegiat yang saya temui, mereka bukan pegiat pariwisata biasa tapi luar biasa.
Mereka telah mempunyai strategis dalam pengelolaan, manajemen, pangsa pasar.
Semua itu dari data yang telah mereka teliti dan analisis bertahun-tahun. Jadi membuat langkah ini berawal dari data yang lengkap dan akurat.

Dulu sebelum pandemi, Desa Terong mempunyai berbagai macam paket wisata edukasi, seperti :

  • menangkap ikan di sungai (mancing, mengolah/masak hingga menyantapnya)
  • Menangkap lokan/kerang
  • Menanam sayuran
    Yang hobi ginian adalah wisatawan luar negeri, mereka berkemah di hutan, ngebolang.
    Disaat pariwisata tutup, pegiat mematuhi aturan pemerintah.
    TUTUP.
    Bagaimana pegiat ini bertahan hidup?.

Sesungguhnya kegiatan pariwisata yang mereka kelola adalah kehidupan mereka sehari-hari, ya petani ya pelaut.
Mereka menjadi pemandu wisata sesuai dengan skill mereka, bila tak ada yang dipandu, ya tetep jadi petani, pelaut.

Dan pegiat ini tidak aktif di dunia nyata, tetapi aktif di dunia maya, waktu saya berkunjung ke Desa Terong ini, ketuanya sedang ikut zoom, mereka masuk nominasi lomba pariwisata yang dilaksanakan oleh Universitas Tri Sakti.

“Kami ikut lomba lain bu, karena lomba A, tahun kemarin kami telah juara 1, sehingga harus pindah ke lomba lain, agar desa lain dapat maju.”

Wiih keren, nga lomba itu-itu aje ye…

Banyak ilmu yang saye dapat dari sini.

Desa Terong Belitung, September 2021

Copyright © Catatan Cika 2021