Hak Urang Bukan Hak Dirik

Hak orang bukan hak saya

Diakhir tahun 2019, kami koordinasi ke desa-desa yang telah dibangun prasarana air minum.
Biaselah, semobil bise urang 7, jaman lom Covid.
Banyak cerite yang dapat dikaitkan dengan rasa.

Adat kami, bila masuk desa, selalu menghubungi pegiat air minum dan perangkat desa (koordinasi awal)

Waktu di Desa I, saya langsung masuk ke kantor desa melaksanakan koord dengan sekdes, tapi kawan-kawan langsung nyerbu pohon rambutan yang berbuah lebat hingga ke tanah, merah-merah pula buahnya.

Riuh rendah suara mereka, bahagia bangets pikir saya🙄.

“Jangaaaan, haaa cemani ni cemane, jangaaaan, weee”.

Kok riuh rendah suara dengan kata-kata aneh ya.
Kemudian senyap.

Tak lama, sayapun keluar karena telah selesai koordinasi dan dengan santai menghampiri buah rambutan dan memetiknya.
“Ibuuuu, jangaaaan,” teriak mereka dari kejauhan.

Laa dari mana ni anak-anak, dari balik kebun/utan?, pikirku.

Dan salah satu dari mereka, balik masuk ke kebun rambutan kembali.

Tak lama keluar sambil bilang, “sudah bu, saya telah minta izin untuk ibu makan buahnya”.

“Laaa bukannya kalian izin satu paket?, tanyaku dengan bingung.

Makin bingung saya.

“Tak bu, nanti diceritakan lengkap”, kata Wotto.

Di mobil, arah pulang, mereka bercerita.
Saya senyam senyum mendengar mereka bercerita dengan wajah cemas, pucat, berkeringat, nafas ngos-ngos.
Wajahnya terkadang putih hijau kuning🤣.

Mereka cerite :
Bu, rupe e bu, harus izin bu, kalo kite makan dan masuk pekarangan kebun amang ni tanpa izin, pacak/bisa seharian kite di dalam kebun, dak ketemu jalan keluar, kena sarat.

Berkeliling cari jalan, tak ketemu-temu. Nanti Amang tu datang, suruh pulang, baru terbuka mate, keliat jalan pulang.

Salah satu perangkat desapun pernah mengalaminya.
Padahal bersebelahan dengan kantor desa kebun ini, teman-teman kantor tak tampak bila salah satu perangkat desa muter-muter di dalam kebun.
Padahal kebun e dak lebat, keliat lapang/tak rimbun.

🤣 tu lah, kalau apa-apa izin, hak urang bukan hak dirik.

Dalam hati :
Bagus ni ilmu, untuk jaga alam, sehingga tak asal jarah hutan.

Dan bila ada adegan muter-muter,
Bagusan bagian Badan Kepegawaian suatu instansi menerapkan ini, jadi yang hobi ke warung kopi bukan waktu dan tugasnya, biarlah terhipnotis keliling meja kopi 50x.
Biar terasa.

Hayooo yang penasaran ini di desa mana?
Mau berguru?😍

Salah satu desa di wilayah Kabupaten Bangka Barat.

Nopember 2019

Ini pohon anggur bukan rambutan
Copyright © Catatan Cika 2021