Karya Hamka

Buku novel ini cetakan ke-8. Terbitan tahun 1983. Cetak pertama tahun 1938. Buku bekas yang saya beli di online orange, bekas tapi asli dan keramat untuk diriku.
Tahun segitu sudah begitu syahdu nya sastra Indonesia. Semakin saya jatuh cinta akan karya para sastrawan jaman dulu. Begitu tinggi ahlaqnya, bukan hanya sisi dunia yang digeluti, tapi akhirat sebagai nakhoda dalam berkarya.
Cerita ini telah diangkat ke layar lebar, tapi lagi-lagi, lebih seru bila membaca. Imajinasi akan suasana, membayangkan tokoh berdialog, diam. Aaaahhhhh begitu indah dan sedihnya ending cerita ini. Akhirnya air mataku tumpah waktu Hayati disuruh Zainuddin pulang ke Padang pasca mantan suaminya meninggal dan surat perpisahan Hayati untuk Zainuddin.
Cerita tentang seorang pemuda yang terbentur akan adat istiadat, dengan berdarah campuran hasil pernikahan ayah Sumatera Barat dengan ibu dari Kota Mengkasar. anak keturunan ini Zainuddin tidak dianggap anak turunan murni dari kedua daerah.
Berawal dari Pandekar Sutan lahir di Kota Padang Panjang, merupakan kepala waris tunggal dari harta peninggalan ibunya, karena dia tidak bersaudara perempuan, sesuai adatnya, sepeninggalan ibunya meninggal, harta orangtuanya, rumah nan gadang, lumbung, sawah dan ladang diurus oleh mamaknya Datuk Mantari Labih. Pendekar Sutan tidak diberi kuasa untuk mengurus, Datuk Mantari Labih menggadai warisan orangtua Pandekar Sutan untuk menikahi anaknya, semua hasil sawah ladang dibawa ke rumah anaknya mamaknya. Di saat Pandekar Sutan hendak beristri untuk menggadai warisan untuk menikah, tetapi tidak diizinkan, sehingga terjadilah pertumpahan darah, Datuk Mantari Labih meninggal, Pandekar Sutan di sidang, dibuang ke Cilacap , dari Cilacap ke Bugis dan terakhir di kota Mengkasar. Pandekar Sutan terkenal dengan keahliannya dalam bela diri, mempunyai jiwa gagah berani, hal inilah menjadi penjagaannya selama masa penjara.
Menikah dengan orang Mengkasar.
Dari perkawinan ini, lahirlah Zainuddin, ada kerinduan akan kampung halaman orangtuanya, dengan cerita dan nyanyian yang didengarnya di masa kecil.
Pulanglah Zainuddin ke kampung orangtuanya, meskipun dia tau, adat istiadat tidak akan berpihak kepadanya. Keluarga miskin yang tidak jelas harta kekayaannya.
Berjumpa dengan Hayati di pematang sawah, ketika hujan lebat, bersama berteduh di pondok, Zainuddin sendiri dengan payung, menunggu dua orang gadis Hayati dan temannya. meskipun dia punya payung, tapi rasa melindungi muncul, menemani kedua gadis menunggu hujan reda. hujanpun tak reda, sorepun telah tiba. Akhirnya Zainuddin meminjamkan payungnya ke Hayati untuk mereka pulang, dia bisa menjaga diri.
Lamaran Zainuddin untuk menikahi Hayati ditolak keluarga Hayati, karena dipandang Zainuddin pemuda miskin, yang tidak jelas keturunannya dan disaat bersamaan keluarga Hayati menerima lamaran Aziz orang berharta, jelas keturunan dan saudara teman karibnya Khadijah.
Hayati seorang wanita yang patuh, tidak melawan akan kebijakan keluarganya, meskipun cintanya ke Zainuddin tidak padam. Zainuddin patah hati, sakit karena menahan rindu dan kebencian akan kemiskinan, cinta tertolak menjadikan insiprasi dia untuk menulis roman, berjuang bahagia menutupi luka yang selalu diberi semangat oleh sahabatnya Muluk.
Di Surabaya Zainuddin berjumpa dengan Hayati, suami Hayati meninggal dunia, tapi takdir tidak mempersatukan mereka meskipun dihari-hari terakhir selalu bersama. Pasca meninggalnya Aziz, Hayati disuruh pulang ke Padang oleh Zainuddin dengan menumpangi kapal VanDer Wijck dari Surabaya. Kapal VanDer Wijck tenggelam, Hayati tidak tertolong Di akhir hayatnya, ada bahagia dirasakan Hayati, bahwa ternyata Zainuddin masih mencintainya.
Zainuddin menutup diri, dan akhirnya meninggal dikuburkan disamping kekasih hatinya.