Buku : Dompet Ayah Sepatu Ibu

Karya J.S. Khairen

Saya ikut baca buku kekinian
secara sekilas tema mirip dengan Karya Tere Liye “Dia Adalah Kakakku”.

Masih edisi meraih Cita melalui pendidikan.

Cerita diangkat dari keluarga miskin, yang berupaya memecah kemiskinan melalui pendidikan, perjuangan kakak yang mesti sekolah agar dapat merubah nasib, agar adik-adiknya bisa sekolah dengan baik.

Jadi inget ayah, Al Fatihah untuk ayah, Saimi Bin Basri.
Selalu teringat tulisan ini, tertulis rapi di kalender dari Bodrexin.
Sengaja ayah tempel di dinding di bawah jam ruang tamu, agar kalau lihat jam, melihat juga kata-kata mutiara itu (mungkin itu maksud tersamarkan dari ayah), diberi lampu kecil (lampu bola senter) di mata perempuan kartun berambut coklat kekuningan sebagai cover kantong kalendernya.

Yap kalender ini berbentuk kantong, di kantong diisi lembaran berisi bulan dan kata mutiara yang berbeda.
dan yang selalu ku ingat ya ini, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”.

Kalau sekarang sudah berkembang kata-kata ini
“Gantungkan cita-citamu setinggi langit, meskipun jatuh kau masih di antara bintang-bintang” ehaaa.

Buku ini mengisahkan, tiada kata miskin untuk orang yang berupaya, bergerak, semangat yang pantang surut dan kekuatan doa.
🌻🌻🌻

Kali ini, saya tertarik dengan profesi Asrul sebagai penulis, dan sebagai wartawan.
Asrul, yang berangkat dari piawai penulis surat cinta, ditempa berkali-kali oleh atasannya dalam membuat berita, bongkar lagi, ketik lagi, pakai mesin tik pula, alamak.
Ini terlalu banyak kata sambung, ini pengulangan informasi yang telah ditulis sebelumnya, dikoreksi habis. Kejar tayang, mesti selesai dan di acc untuk boleh masuk ke bagian produksi.

Kenapa mesti bertubi dikoreksi? karena setiap berita telah ada ukuran luasan lapaknya masing-masing, dan jumlah lembar koranpun telah dibatasi, kecuali ada edisi khusus dan weekend, itupun banyak untuk iklannya.

Kenapa dikoreksi muatan isinya?
Karena zaman itu, koran merupakan kekuatan penyatu bangsa, informasi yang sangat dapat dipercaya, yang bukan kaleng-kaleng, yang bukan berita setengah mateng, yang bukan berita isu.
🌻🌻🌻

Cerita koran jaman dulu (versi saya).
Jaman dulu koranpun ada jenisnya sebagai ciri khasnya, ada aktual dalam pemberitaan, bisnis ekonomi, kriminal, bahasa Inggris dll.

Ada koran yang sedikit ringan dan saya suka baca Koran PosKota, kalau buka koran ini, halaman yang pertama dibuka ya halaman kartun Toing, masih ingat dengan rambut miringnya, Ali Oncom dengan celana jeannya, Doyok dengan blangkon dan baju luriknya😁.
Koran ini halaman depannya padat warna, beritanya ramai, jenis hurufpun macam-macam saling tabrak😁.

Kalo Kompas tampilan kalem, mirip dengan Republika. Beritanya aktual. tanpa digiring opini si empu atau pesanan, perasaan saya ya waktu itu, entah sekarang.

Kalau baca kompas edisi weekend, halamannya banyak, banyak berisi halaman Lowongan pekerjaan😁, dan bila edisi ucapan duka, ucapan selamat, menambah jumlah halaman tanpa menaikkan harga jual.

Koran mingguan, yang terbit sekali dalam seminggu, pernah baca Koran Sentana (lupa-lupa inget namanya) yang saya ingat disitu ada halaman yang memuat “Surat Cinta Soekarno kepada istri-istrinya”, kalo nga salah, sampai saya kliping loh🤣.
dan koran inilah membuat saya piawai nyoret dan nyambung angka untuk Porkas dan SDSB🤣 (yang nga tau, diam aja ya😄). Dah segitu aja cerita baca korannya.😁🙏🏻

Copyright © Catatan Cika 2021