
Saya bukanlah ahlinya dalam teori sanitasi apalagi praktek penuntasan sampah yang berdampak perekonomian.
Jaauuuh….
Hanya baca teori, liat praktek di dunia maya, kunjungan lapangan, nyimak cerita-cerita dari para pegiat persampahan yang lebih banyak susahnya dibanding happy (curhat yang dalem ini😜).
Tapi kok mereka masih tetap bergelut di sampah kalo itu menyusahkan?
Apa karena ada keuntungan dari sampah ini bagi dirinya?
Yap ternyata iya…. bukan karena diujung sampah ada nilai ekonomi, tetapi kepuasan telah menjaga lingkungan, puas bukan hanya sebatas teori tetapi praktek nyata dan menjadi kebiasaan.
Benar kata teori… ala bisa karena biasa
Yang dilakukan setiap hari menjadi kebiasaan rutinitas, kegiatan yang bermanfaat tentunya.
Dan hal itulah yang saya mulai (coba-coba) lakukan di weekend, mengelompokkan sampah, yang setiap hari saya tumpuk dulu, di weekend baru dikelompokkan..
Dan sudah diagenda setiap bulan sekitar 2x menabung sampah
Dan sudah dijadwalkan sebelum lebaran Idul Fitri saban taon tabungan sampah ini diuangkan dan disedekahkan ke mesjid. (Ya namanya juga cita-cita mulia ya, Insyaallah dimudahkan).
Ternyata kepuasan itu semakin indah karena berakhir di pahala.
Indah, manis dari kumpulan sampah
Ternyata Cika itu sangat mudah diprovokasi yah🤣